Kementerian Keuangan Dari Masa ke Masa

Kementerian Keuangan merupakan Kementerian yang mempunyai organisasi berskala besar dan heterogen serta merupakan satu-satunya kementerian yang bersifat holding company type department.

Dalam perjalanannya semenjak awal kemerdekaan Republik Indonesia, struktur organisasi Kementerian Keuangan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntutan stakeholder.

Periode Jabatan
Menteri Keuangan

Samsi Sastrawidagda

Kabinet RI Pertama ( Kabinet Bucho / Presidensial )

19 Agt 1945 - 2 Sep 1945

Alexander Andries Maramis

Kabinet Presidensial

2 Sep - 14 Nov 1945

Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II

3 Jul 1947 - 29 Jan 1948

Kabinet Hatta I

29 Jan 1948 - 19 Des 1948

Soenarjo Kolopaking

Kabinet Sjahrir I

14 Nov - 5 Des 1945

RM Pandji Surachman Tjokroadisurjo

Kabinet Sjahrir I

5 Des 1945 - 12 Mar 1946

Kabinet Sjahrir II

12 Mar 1946 - 02 Okt 1946

Sjafruddin Prawiranegara

Kabinet Sjahrir III

2 Okt 1946 - 26 Jul 1947

Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS)

20 Des 1949 - 6 Sep 1950

Kabinet Natsir

6 Sep 1950 - 20 Mar 1951

Lukman Hakim

Kabinet Darurat ( Pemerintahan Darurat Republik Indonesia/PDRI )

19 Des 1948 - 13 Jul 1949

Kabinet Hatta II

4 Agt 1949 - 14 Des 1949

Kabinet Susanto

20 Des 1949 - 21 Jan 1950

Kabinet Halim

21 Jan 1950 - 6 Sep 1950

Jusuf Wibisono

Kabinet Sukiman-Suwirjo

27 Apr 1951 - 3 Apr 1952

Kabinet Ali Sastroamidjojo II

24 Mar 1956 - 9 Apr 1957

Soemitro Djojohadikusumo

Kabinet Wilopo - Prawoto

3 Apr 1952 - 30 Jul 1953

Kabinet Burhanuddin Harahap

12 Agt 1955 - 24 Mar 1956

Ong Eng ie (Wang Yong Li)

Kabinet Ali Sastroamidjojo I

30 Jul 1953 - 12 Agt 1955

Soetikno Slamet

Kabinet Djuanda / Karya

9 Apr 1957 - 10 Jul 1959

Djoeanda Kartawidjaja

Kabinet Kerja I

10 Jul 1959 - 18 Feb 1960

Kabinet Kerja II

18 Feb 1960 - 1 Jul 1960

R.M Notohamiprodjo

Kabinet Kerja II

1 Jul 1960 - 6 Mar 1962

Kabinet Kerja III

6 Mar 1962 - 13 Nov 1963

Soemarno

Kabinet Kerja IV

23 Nov 1963 - 27 Agt 1964

Kabinet Dwikora I

27 Agt 1964 - 22 Feb 1966

Kabinet Dwikora II (Kabinet 100 Menteri)

24 Feb 1966 - 28 Mar 1966

Kabinet Dwikora III

27 Mar 1966 - 25 Jul 1966

Franciscus Xaverius Xeda (Frans Seda)

Kabinet Ampera

25 Jul 1966 - 6 Jun 1968

Ali Wardhana

Kabinet Pembangunan I

6 Jun 1968 - 28 Mar 1973

Kabinet Pembangunan II

1 Apr 1973 - 31 Mar 1978

Kabinet Pembangunan III

1 Apr 1978 - 31 Mar 1983

Radius Prawiro

Kabinet Pembangunan IV

19 Mar 1983 - 21 Mar 1988

J. B. Sumarlin

Kabinet Pembangunan V

21 Mar 1988 - 17 Mar 1993

Marie Muhammad

Kabinet Pembangunan VI

17 Mar 1993 - 16 Mar 1998

Fuad Bawazier

Kabinet Pembangunan VII

16 Mar - 21 Mei 1998

Bambang Subianto

Kabinet Reformasi Pembangunan

23 Mei 1998 - 20 Okt 1999

Bambang Sudibyo

Kabinet Persatuan Nasional

23 Okt 1999 - 23 Agt 2000

Prijadi Praptosuhardjo

Kabinet Persatuan Nasional

23 Agt 2000 - 12 Jun 2001

Rizal Ramli

Kabinet Persatuan Nasional

12 Jun - 9 Agt 2001

Boediono

Kabinet Gotong Royong

9 Agt 2001 - 20 Okt 2004
2003

Lahirnya Undang-undang Keuangan Negara.

Jusuf Anwar

Kabinet Indonesia Bersatu I

21 Okt 2004 - 7 Des 2005

Agus Martowardodjo

Kabinet Indonesia Bersatu II

20 Mei 2010 – 18 Apr 2013

M. Chatib Basri

Kabinet Indonesia Bersatu II

21 Mei 2013 - 20 Okt 2014

Bambang Brodjonegoro

Kabinet Reformasi Pembangunan

27 Okt 2014 - 27 Jul 2016

Sri Mulyani Indrawati

Kabinet Indonesia Bersatu I

7 Des 2005 – 20 Mei 2010

Kabinet Kerja

27 Jul 2016 – 20 Okt 2019

Kabinet Indonesia Maju

23 Okt 2019 – sekarang
1945 - 1950 1945
-
1950
1951 - 1959 1951
-
1959
1960 - 1966 1960
-
1966
1967 - 1998 1967
-
1998
1999 - 2021 1999
-
2021
Kebijakan dan
Peristiwa Penting
1945

Pemerintah mencari dana untuk membiayai jalannya pemerintahan dan perjuangan.

Pembentukan panitia pencetakan uang ORI.

1946

Kebijakan mengadakan konferensi ekonomi yang diselenggarakan bulan Februari 1946.

Pelaksanaan Program Pinjaman Nasional yang tertuang di dalam UU Nomor Tahun 1946.

Diplomasi beras dengan India sebagai strategi membuka blokade perdagangan luar negeri yang dilakukan Belanda.

Uang ORI dicetak dan digunakan resmi sebagai uang negara yang dikukuhkan didalam UU Nomor 17 Tahun 1946.

1947

Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi).

Mempertahankan ORI sebagai uang resmi RI dan memberikan wewenang kepada daerah untuk menerbitkan mata uang atau alat pembayaran sementara menurut PP Nomor 19 Tahun 1947.

1948

Kebijakan 'Kasimo Plan' yang ditujukan untuk memproduksi pangan untuk persediaan, khususnya di Sumatera.

1950

Pemerintah mengeluarkan kebijakan program yang fenomenal yang lebih dikenal dengan sebutan kebijakan 'Gunting Sjafruddin’.

1956

Kebijakan pemutusan kerja sama Finek melalui UU pembatalan persetujuan kerja sama KMB.

1957

Penghentian program Benteng.

1958

Kebijakan penyusunan Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT).

1959

Penurunan nilai mata uang pecahan Rp10.000 dan Rp5.000 (Sanering).

Kebijakan devaluasi mata uang rupiah terhadap mata uang asing.

1963

Kebijakan penandatanganan uang kertas pecahan Rp1dan Rp2,5.

Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon).

1965

Devaluasi mata uang rupiah terhadap mata uang asing.

1968

Kebijakan penurunan tingkat inflasi secara masif yang pada saat itu mencapai nilai 650%.

1971

Devaluasi mata uang rupiah terhadap mata uang asing.

1976

Pembentukan PAIK, BAPEPAM, & BUPN di lingkungan Kementerian Keuangan.

1978

Kebijakan devaluasi mata uang rupiah terhadap mata uang asing.

Kebijakan disiplin fiskal, reformasi ekonomi nasional, dan perdagangan internasional.

1983

Kebijakan Moneter Paket Juni (Pakjun) untuk penyaluran kredit perbankan.

1986

Devaluasi mata uang rupiah terhadap mata uang asing.

1988

Kebijakan Moneter Paket Oktober (Pakto 88) yang ditujukan untuk mendukung perluasan jaringan keuangan dan perbankan di seluruh Indonesia.

1991

Kenaikan harga BBM dimana tiap jenisnya mengalami kenaikan lebih dari 20%. Kenaikan ditetapkan di dalam Keppres No.30/1991.

1993

Kebijakan penyelesaian kredit macet perbankan, reformasi perpajakan, dan efisiensi anggaran.

Kenaikan harga BBM, harga premium dari Rp550 menjadi Rp700.

Inpres Desa Tertinggal (IDT) Nomor 5 Tahun 1993.

1997

Peningkatan pengeluaran anggaran untuk program restrukturisasi sektor keuangan dan jaring pengaman sosial.

Tight fiscal policy dengan mengurangi ekspansi pengeluaran pemerintah untuk proyek investasi.

Tight money policy dan perubahan sistem nilai tukar mata uang menjadi floating exchange rate.

Pemulihan ektor ekonomi dan keuangan dengan menandatangani Letter of Intent antara Indonesia dan IMF.

1998

Kebijakan merger, akuisisi, dan likuidasi perbankan yang mengalami masalah.

Kebijakan BLBI sebagai kebijakan bailout pemerintah atas perbankan. Kemudian, tugas ini dialihfungsikan kepada BPPN.

2001

Kebijakan otonomi daerah.

Kebijakan efisiensi waktu penyelesaian revisi APBN.

2002

Pembentukan Large Tax Office (LTO) Pertama.

2002 - 2003

Penyesuaian harga BBM.

2003

Penetapan UU Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003.

2004

Penetapan UU Perbendaharaan Negara Nomor 1 Tahun 2004 dan UU Pemeriksaan Nomor 15 Tahun 2004.

2005

Pemberian Penyertaan Modal Negara untuk PT Merpati Nusantara tahun 2005 sebesar Rp75 miliar.

Audit terhadap solar yang akan digunakan PLN sebagai dasar subsidi yang akan diberikan pemerintah.

2006

Hari Lahir Ditjen Kekayaan Negara.

Pemberian Penyertaan Modal Negara untuk PT Merpati Nusantara tahun 2006 sebesar Rp450 miliar.

2008

Reformasi birokrasi Kemenkeu.

Alokasi dana restrukturisasi dan revitalisasi Rp300 miliar tahun 2008 untuk PT Merpati Nusantara.

2010

Pemberian Dana Subloan Agreement (SLA) sebesar Rp2 triliun tahun 2010 untuk PT Merpati Nusantara.

2014

Penyiapan anggaran divestasi PT Inalum ke Indonesia sebesar Rp7 triliun.

Kebijakan bea keluar sumber daya mineral dan batubara untuk diekspor sejalan dengan UU Nomor 7 Tahun 2009 (PMK Nomor 6/PMK.011/2014).

2015

Penganggaran untuk Dana Desa. Dana Desa yang dianggarkan dalam APBN-P 2015 sebesar Rp20,7 triliun.

Pengurangan subsidi BBM. Dananya dialihkan untuk pembangunan insfrastruktur sebagai prioritas pembangunan.

Subsidi tetap untuk penggunaan solar. Subsidi tetap diberikan sebesar Rp1.000 per liter.

Insentif fiskal sebagai bagian dari beberapa paket kebijakan ekonomi kelima yang dikeluarkan pemerintah.

2016

Kebijakan tax amnesty dari 1 September 2016 sampai dengan 31 Maret 2017.

Kebijakan pengalokasian anggaran THR dan Gaji ke-13 untuk PNS.

Kebijakan efisiensi anggaran dengan dipotongnya belanja APBN 2016 sebesar Rp133.8 triliun.

2017

Efisiensi anggaran APBN 2017 yang dipangkas senilai Rp16 triliun.

2018

Penetapan UU Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Penyusunan regulasi untuk percepatan kemudahan berusaha (Easy of Doing Business/EoDB).

2019

Kebijakan program Sinergi Reformasi DJP, DJBC, dan DJA untuk membangun ekosistem kepatuhan dan kemudahan berusaha

Piloting asuransi Barang Milik Negara.

2020

Penetapan UU Nomor 2 Tahun 2020 sebagai upaya negara hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap dampak COVID-19.

Pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional yang ditetapkan dalam PP Nomor 23 Tahun 2020.

Penetapan tiga payung hukum untuk Lembaga Pengelola Investasi.

2021

Insentif kendaraan bermotor dan properti untuk menggairahkan konsumsi dan mempercepat pemulihan ekonomi.

Kemenkeu, OJK, dan BI menyepakati kebijakan stimulus ekonomi.

APBN responsif dan fleksibel mendukung pelaksanaan PPKM darurat dengan menambahkan anggaran kesehatan dan menguatkan sektor lainnya dalam kerangka program PEN.

Pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 menyepakati kerja sama lebih kuat untuk menanganani pandemi secara menyeluruh.

Inisiasi program secondment dan Kemenkeu Satu Negeri yang melibatkan seluruh unit eselon I Kemenkeu, SMV, dan Bank Indonesia.

Pemerintah mengambil alih aset obligor BLBI.

1945 - 1950 1945
-
1950
1951 - 1959 1951
-
1959
1960 - 1966 1960
-
1966
1967 - 1998 1967
-
1998
1999 - 2021 1999
-
2021
LIKA-LIKU KISAH
KEMENKEU
LIKA-LIKU KISAH KEMENKEU
Kisah tentang Kementerian Keuangan dari masa ke masa tak akan usang untuk dibicarakan. Sejarah selalu menjadi pelajaran berharga untuk masa kini dan masa depan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, agar Kemenkeu tidak tergerus oleh zaman. Inilah cerita sang penjaga keuangan negara yang terus berbenah dalam pengabdian untuk indonesia.